A Tumbleblog. Random thoughts. Music, foods, cats, fictions, and travelling. Paul Sadowski knows my inner dream.

 

Apakah Arti Puasa?

Ini sebetulnya obrolan dua adik saya, Mia (15 tahun) dan Aziza (5 tahun). Aziza memang agak... terlalu cerdas buat anak seumurannya. Tahun ini Aziza baru mau belajar puasa (setengah hari). Tapi di hari pertama, dia udah makan dua es krim dan bakpia di siang bolong. =))

Aziza (A): Kak, puasa itu ngapain aja sih?

Mia (M): Puasa itu enggak boleh makan. Enggak boleh minum. (jawaban standar buat 'anak kecil')

A: Tapi nanti kalau Ziza lapar, gimana?

M: Ya, kan, puasa emang nahan lapar...

A: Ah, Aziza mau makan diam-diam aja kalau Aziza lapar.

M: Kok gitu?

A: Kan enggak ada yang lihat, Kak.

M: Tapi Allah lihat.

A: Emangnya Allah ada? Allah di mana?

M: ....

M: ....

Akhirnya, Ibu memutuskan untuk memasukkan Aziza ke pesantren setelah lulus TK nanti supaya ada yang membimbing dia : "|

Sebuah Kabar di Pagi Hari

Jumat yang tak seperti biasa, mataku terbuka karena dering suara dari dalam tas. Kutekan sebuah tombol, berwarna hijau.

"Ya. Assalamualaykum Ibu."

Suara tak asing menjawab salamku. Lalu sebuah pertanyaan, “Sudah bangun, Nak?”

Ia tahu kalau tak biasanya aku bangun sepagi itu.

"Semalam," ucapnya pelan.

Aku menguap. Mendengarkan. Ini betul-betul masih pagi.

"Mas Wawan  kecelakaan. Meninggal."

"Ha? Apa?" tanyaku.

Iya, aku dengar. Aku mendengar ucapan ibuku. Jelas. Seperti sebuah marka jalan yang menyala di malam hari ketika lampu kendaraan menyorotnya.

Ibu mengulanginya, sekali lagi.

"Siapa? Siapa yang meninggal?"

Ibu menyebut namanya, sekali lagi.

"Yang betul?"

"Untuk apa, Nak, berbohong perihal kematian seseorang?"

Bukannya aku tak mendengar apa yang diucapkannya. Bukan. Kadangkala kita bertanta-tanya, pura-pura salah dengar, hanya karena kita tak mau percaya pada apa yang kita dengar. Aku pun. Rasanya kalimat yang melesat itu lebih cepat dari cahaya. Gambar-gambar mendadak berhamburan di dalam kepala. Mas Wawan. Sepupuku itu. Usianya mungkin belum genap kepala tiga.

"Innalillahi wa innailaihi rajiuun." Aku menggenggam sprei yang kusut, merasa butuh sesuatu untuk berpegang.

Hari Jumat, matahari belum juga lebih tinggi dari batas cakrawala.

Lalu aku terisak.

Tidak pernah luput janji Tuhan kepada hambanya.

Seminggu lagi Ramadhan tiba.

Aku diam-diam menangis, lama setelah Ibu menutup telepo pagi ini. Masih tak percaya.

rintihan-galau:

Cerpen atas ask Teki di sini. Nggak seperti Teki, sebenernya saya gak pandai nulis fiksi, apalagi cerpen. Jadi mohon maklum kalau abalan, ya.

Read More

Twist-nya itu, loh. Keren banget! :))

annisalovegood asked
Kak, jelasin ke aku dong, maksud "Bukan tuhan yang menciptakan manusia." itu apa? Sama maksud "Cogito ergo sum." juga. ^^

Halo, Annisa *lambai* salam kenal, ya :D

Wah, kamu mempertanyakan sesuatu yang saya tulis waktu lagi teler. Sekarang saya bingung harus jawab apa…..

Sebetulnya, yang bilang gitu bukan saya. Tapi Rene Descartes. Yah, begitulah. Bahwasanya menurut beliau pikiran manusia itu satu-satunya hal yang pasti. Kalau menurut pemikiran itu, berarti keberadaan tuhan ada itu semata-mata karena manusia berpikir bahwa tuhan ada. Gitu lah kira-kira.

A Little Note from Kampus Fiksi Emas (13-15 Juni 2014)

(tadinya mau ngepost di Wordpress, tapi maaf saya katro gak tahu cara ngelampirin foto di postnya, akhirnya post di sini aja *nangesh*)

Mulanya….

Kisahnya, bulan Desember 2013 lalu ada lomba yang diselenggarakan oleh penerbit DIVA Press, tapi khusus untuk para alumni Kampus Fiksi 1-5. Waktu itu saya langsung tertarik ikut, meski terus terang aja temanya agak-agak sulit. Kearifan lokal dibalut romansa. Waktu itu mikir, ini jenis makanan apa, coba? (Haha enggak, deh, bercanda). Yah, singkat cerita saya coba meminta dua teman saya untuk menilai cerpen saya dulu sebelum dikirim. Tahu enggak? Saya paling suka kalau minta tolong ngerepotin gini, terus dibalas pakai kripik maicih pedas level 10 a.k.a kritik pedassss. Maksudnya biar tahu kekurangan saya di mana. Setelah ada yang diperbaiki, barulah saya kirim.

Alumi Kampus Fiksi dari angkatan 1 – 5 banyak cerpenis dan orang-orang yang tulisannya diam-diam saya kagumi (soalnya saya kan suka jadi secret admirer—selipkan gambar muka memerah di sini). Enggak berharap menang, sungguh! Niatnya ikut meramaikan aja waktu itu.

Sewaktu pengumuman 27 besar cerpen yang terpilih, saya ingat banget, Pak Edi (CEO DivaPress) semacam bikin jantung saya mau copot. Saya bukalah tautan yang diposting di lini masa Twitter, ternyata ada nama saya! Senang bukan main, tapi katanya ada 7 orang yang harus dieliminasi. Mendadak saya langsung berhenti teriak-teriak girang, diganti dengan ekspresi cemas sambil guling-guling di lantai.  Dan Pak Edi itu nyebelin! (peace, Pak). Masa, ditinggal liburan ke Turki dulu sebelum pengumuman official 20 besar…. Tegaaa (ceritanya sirik).

Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Alhamdulillah, saya masuk 20 besar. Cuma, ada satu kendala yang bikin saya galau tak kira-kira. Waktu itu saya baru didiagnosa terkena penyakit paru-paru yang cukup parah dan saya jadi takut kalau di hari-H pelaksanaan acara Kampus Fiksi Emas, saya malah belum terlalu sehat untuk ikut (jadi 20 besar ini akan diundang ke Jogja untuk acara tersebut). Tapi itulah, saya bertekad sudah sehat lagi di hari pelaksanaan acara itu. Untungnya di hari-H, saya bisa ikutan (kecuali pas acara jalan kaki mau ke Tlogo Putri, terpaksa saya nyerah sama kapasitas paru-paru yang belum normal—langsung bengek, padahal baru jalan kaki beberapa meter hehehe).

Si Kembar….

Tepatnya tanggal 12 Juni 2014, Kampus Fiksi Emas digelar. Saya senang betul bisa ketemu lagi orang-orang yang sudah lama tak saya temui lagi. Juga, terutama, bisa bertemu orang-orang yang selama ini hanya saya kenal lewat dunia maya dan grup whatsapp aja. Akhirnya saya bisa kenal langsung sosok aslinya.

Inilah pertama kalinya saya ketemu Fhea. Yang pertama mengatakan kalau saya dan Fhea itu mirip adalah Ghyna. Kalau mau tahu, saya ini orang yang paling enggak suka dimirip-miripin sama orang lain. Entahlah. Soalnya serigkali saya merasa emang enggak mirip. Waktu teman-teman saya bilang saya mirip Citra Idol juga bukannya bikin saya bangga disamakan dengan artis. Enggak. Habisnya saya enggak lihat sisi miripnya saya dan Citra Idol. Tapi waktu lihat Fhea…. Jrenggg! KOK BISA GINI? Maksudnya, saya agak syok juga kali ini. Eh, beneran mirip! Bahkan foto berdua aja jadi begini hasilnya:

Read More

barinianjarsari asked
Salam, ka.. aku boleh tanya sesuatu tentang magang di PTMI McDermott?

Wah, maaf baru jawab. Saya jarang buka inbox :(

Boleh, dong. Halaman web resminya ada di sini. Ini maksudnya mau nanya-nanya soal intern di sana, kan? Soalnya saya cuma magang waktu itu hehe. Biasanya kalau mau magang, memang harus masukin CV dan surat dari kampus (tergantung kebijakan kampusnya). Waktu magangnya juga minimal 2 bulan. Dan sebelum mulai magang, harus datang untuk briefing dulu, baru semingu pertama pelatihan untuk safety, dan lanjut magang deh :D

Itu aja deh dulu yang bisa saya jawab. Kalau ada yang kurang jelas jangan segan-segan nanya lagi. Hehe. Maaf ya, saya gaje.

Dian \dian\ as a girl’s name has the meaning “divine” and is a variant of Diana (Latin), mythology: Diana was an ancient Roman goddess who came to be associated with the Greek god Artemis.

Iriana \i-ria-na\ as a girl’s name has the meaning “peace” and is a variant of Irene (Greek), mythology: Greek goddess of peace.

http://www.thinkbabynames.com/

so basically it means Divine’s Peace?

Marianne

(anggaplah ini pemanasan nulis  lagi, setelah sekian lama hiatus nulis—maaf aku blending)

Dia sendiri yang bilang, aku harus menyayangi gadis lain.

Tawanya, lengkung bibirnya waktu ia tersenyum, matanya yang berkaca-kaca, dan jemarinya yang kecil-ramping seolah bisa kulihat pada angin, awan, dan hujan. Sudah hampir setahun sejak terakhir kali kulihat dia di bawah pohon sikamor. Aku benci harus bilang bahwa aku membencinya—si sikamor—sejak saat itu.

“Kau bisa saja tinggal bersamaku,” kupinta kau.

Aku takut kau menolak, namun tetap saja kukatakan. Kukira kau akan marah besar karena aku meminta yang aneh-aneh. Tak salah, jika setelah mengatakannya ingin sekali aku kembali ke beberapa detik lalu; aku terlalu takut untuk kau tolak. Waktu itu mana bisa kubayangkan jika harus berjalan di atas bumi ini tanpa persetujuanmu atas permintaanku. Lebih baik aku diam, mungkin saja diam akan membuatmu tetap berada di orbitku. Meski kita tak pernah sedekat itu. Tidak. Kapan terakhir kali kita bicara sebelumnya? Apakah di rumah kaca kala sinar matahari diam-diam menyelinap hanya untuk mengintip pipimu yang bersemu saat kutanya kau sedang apa? Terus terang, aku cemburu pada matahari itu—sialan! Harusnya kuledakkan saja ia, kubiarkan dunia ini jadi gulita, supaya tak ada yang bisa sekurangajar itu membuatmu terlihat lebih pemalu dari seharusnya.

Di dalam kegelapan, barangkali kita akan lebih jujur pada perasaan kita.

Read More

Nanti, Enam Bulan Atau Setahun Lagi

Saya tahu sejak awal bahwa kami akan berpisah. Saya sudah paham sejak awal kalau kami hanya sementara saja  berkumpul ini, hanya dalam hitungan tahun yang tidak melengkapi jari-jari di satu tangan. Tapi, kadang, saya merasa tak ada salahnya berpura-pura semua akan selamanya sama. Karena jika tidak begitu, saya akan melulu takut membuka diri. Selalu dihantui masa lalu, kenangan masa SMA, dan orang-orang yang tak selamanya bisa ada di sebelah saya. Saya sadar saya butuh mereka. Makanya, meski saya sadar tak bisa selamanya sama-sama, saya tetap bisa pura-pura kalau semua akan sama selamanya.

Sampai waktu seperti ini tiba. Waktu, yang, kalau sedang memberi kesempatan saya menyendiri dan berpikir akhirnya hanya dapat satu kesimpulan, “Yah, kita akan menjalani hidup kita masing-masing.” Karena bersama-sama terus pun tidak mungkin. Kita masih punya cita-cita, harapan, tujuan hidup, dan itu semua tidak sama dari satu ke yang lainnya. Jadi waktu itu pula yang membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang akan terjadi 6 bulan atau setahun mendatang?”

Apa masih sama seperti sekarang? Yang nyaris setiap saat bisa berjumpa. Yang jarak bukan halangan. Yang bisa tahu keadaan, sedang senang atau susah. Saling bercerita, berbicara, tertawa, menangis bersama. Apa masih sama?

Sombong sekali kalau saya berkata, saya takut terjadi apa-apa pada mereka ketika saya tidak ada. Karena nyatanya saya merasa tidak sekrusial itu buat mereka—yang bisa menentukan kebahagiaan atau kesedihan orang. Tapi saya tahu, ketika bersama-sama dan sendiri-sendiri nanti, semuanya akan terasa berbeda. Bagaimana kalau si A, yang biasanya butuh sosok B saat keadaan tertentu, kehilangan sosoknya?? Bagaimana kalau  saya butuh sosok A? Bagaimana kalau sosok C tidak mampu menggantikan peran si B atau D yang selama ini menjaga A?

Ini mungkin kekhawatiran saja. Tapi bagaimana nanti, enam bulan atau setahun ke depan, ketika kita sudah hidup masing-masing?

kiasleather:

The winners of the Best of APLF Awards
Winners of Best of APLF Awards were announced at the Fashion Access VIP Cocktail on 29 September, the 2nd day of the 3-day fair. The Best of APLF Awards is an initiative that recognises design excellence & creativity among exhibitors - spearheaded by the organisers APLF Ltd and supported by industry professionals.
There were a total of nine award categories this season. It gives the organisers great pleasure to publish the results and congratulate all the winners:
Best Stand: Guangzhou Norman’s Leatherware Company, China
For its ingenious ways of displaying leather gloves that has that much needed storage space and a pack-up and go convenience. Best in Colour Marketing: Flymaze Limited, Hong Kong
For its ingenious use of a distinctive singular colour in marketing their bag collection, creating a strong visual impact. Best Leather Garment Collection: Butoni Ltd., Hong Kong
For its high-quality garment collection that shows an innovative mix of leather and fabric and excellent workmanship, creating a good fashion image. Best Travel or Lifestyle Product: Fel & Co International (Kias Leather), Indonesia
For its handmade, vegetable-dyed leather retro suitcases that bring glamour back to travel. Best Fashion Accessory Collection: Omaque Arts & Crafts, Philippines
For their creative use of natural, traditional materials and their intuitive feel for volume and mass that has resulted in a striking collection.  Best Men’s Footwear Collection: Art Star Co., Hong Kong
For their very “on trend” men’s shoe collection that offers wonderful colours, elegant shapes and a fresh take on traditional shoe styles.
 Best Ladies Footwear Collection: Heavy Machine, Taiwan
For their fun shoe collection that brings together technology, quality and a strong sense of colour that puts across a definite summer feel. Best Bag Collection: Gaya Canada Enterprise Ltd., Canada
For their wide range of bag designs that show a great sense of colour, form and style. Best Fashion Collection: NYHK (China) Holdings Ltd., Hong Kong
For its strong coherent collection of shoes and bags that evokes a very precise image of casual urban style.
Joining the Best of APLF Awards Head Judge, Olivier Guillemin (founder of Paris-based design consultancy and also Creative Director of Fashion Access) and returning judge Jayne Esteve Cure (founder of Jayne Fashion Agency Paris and Fashion Advisor to Fashion Access), are: Judy Tchou, manager of the trends team at Wing On Department Stores and Valerie Wilson Trower, Trend Director Asia of Stylesight.
Source: http://www.fashionaccess.aplf.com

Numpang buat data TA.

kiasleather:

The winners of the Best of APLF Awards

Winners of Best of APLF Awards were announced at the Fashion Access VIP Cocktail on 29 September, the 2nd day of the 3-day fair. The Best of APLF Awards is an initiative that recognises design excellence & creativity among exhibitors - spearheaded by the organisers APLF Ltd and supported by industry professionals.

There were a total of nine award categories this season. It gives the organisers great pleasure to publish the results and congratulate all the winners:

Best Stand: Guangzhou Norman’s Leatherware Company, China

For its ingenious ways of displaying leather gloves that has that much needed storage space and a pack-up and go convenience.

Best in Colour Marketing: Flymaze Limited, Hong Kong

For its ingenious use of a distinctive singular colour in marketing their bag collection, creating a strong visual impact.

Best Leather Garment Collection: Butoni Ltd., Hong Kong

For its high-quality garment collection that shows an innovative mix of leather and fabric and excellent workmanship, creating a good fashion image.

Best Travel or Lifestyle Product: Fel & Co International (Kias Leather), Indonesia

For its handmade, vegetable-dyed leather retro suitcases that bring glamour back to travel.

Best Fashion Accessory Collection: Omaque Arts & Crafts, Philippines

For their creative use of natural, traditional materials and their intuitive feel for volume and mass that has resulted in a striking collection.

Best Men’s Footwear Collection: Art Star Co., Hong Kong

For their very “on trend” men’s shoe collection that offers wonderful colours, elegant shapes and a fresh take on traditional shoe styles.

Best Ladies Footwear Collection: Heavy Machine, Taiwan

For their fun shoe collection that brings together technology, quality and a strong sense of colour that puts across a definite summer feel.

Best Bag Collection: Gaya Canada Enterprise Ltd., Canada

For their wide range of bag designs that show a great sense of colour, form and style.

Best Fashion Collection: NYHK (China) Holdings Ltd., Hong Kong

For its strong coherent collection of shoes and bags that evokes a very precise image of casual urban style.

Joining the Best of APLF Awards Head Judge, Olivier Guillemin (founder of Paris-based design consultancy and also Creative Director of Fashion Access) and returning judge Jayne Esteve Cure (founder of Jayne Fashion Agency Paris and Fashion Advisor to Fashion Access), are: Judy Tchou, manager of the trends team at Wing On Department Stores and Valerie Wilson Trower, Trend Director Asia of Stylesight.

Source: http://www.fashionaccess.aplf.com

Numpang buat data TA.